CAHAYA RAMADHAN, DAMAI DALAM PERBEDAAN
Akhir
ini, catatan hubungan antar umat beragama masih buram, bahkan kelam. Puluhan,
bahkan sudah ratusan rumah ibadah dibakar oleh sekelompok orang dengan dalih
dan dalil agama. Padahal, agama menurut Berger dapat berfungsi sebagai tenda
atau payung besar (paramount/canopy)
yang menaungi kehidupan masyarakat untuk bertindak sejalan dengan norma yang dianut
oleh masyarakat, karena agama adalah langit suci, kanopi sakral, (sacred canopy), yang melindungi
masyarakat dari situasi meaningless, chaos, dan chauvinistic. Tidak layak menyalahkan agama, karena sebagai dogma
agama telah bekerja secara baik dengan caranya sendiri mengatur kehidupan
manusia. Mungkin, yang kurang tepat adalah cara pandang kita terhadap agama
lain, atau tafsir kita tentang kemajemukan yang telah given diberikan oleh
Tuhan, atau mungkin kemajuan ilmu pengetahuan menyebabkan kita sering abai dan
apatis melakukan klarifikasi terhadap berita di linimasa yang bergerak
sedemikian cepatnya.
Sebagai
dogma, agama adalah teks suci yang turun dari langit menyebar pada horison dan
gugus sakralitas yang tidak dapat digugat. Akan tetapi, agama memiliki sisi
profan yang memungkinkan teks dan konteks bertemu dalam kesepakatan. Kelompok Strukturalis
memotret, bahwa masyarakat adalah manusia yang terdiri dari individu yang dapat
melakukan tindakan sosial dalam bentuknya yang paling khas, tidak berusaha menjadi
makro dalam masyarakat. Sehingga, agama boleh sama, bahkan organisasi bisa
seragam. Namun, sikap dan tindakan dalam merespon perbedaan dan kemajemukan
juga terkadang berbeda. Manusia memiliki kebebasan untuk mengekpresikan
ketaatan yang paling radikal kepada Tuhan-Nya, sebagaimana ia bebas
menggayutkan diri pada norma budaya yang menjunjung tinggi persaudaraan.
Cahaya
itu muncul perbukitan Tana Toraja, tempat agama dan kearifan lokal menyemai
damai dalam perbedaan. Ismail (bukan nama sebenarnya) seorang Diaspora dari
Tanah Jawa dan Margareta (bukan nama sebenarnya) perempuan paruh baya asli
putri Toraja. Bertemu dalam sakralitas perkawinan dan dukungan budaya yang
toleran. Memeluk Islam, bahkan bergabung dengan organisasi puritan yang sangat
mashur di tanah air dan mancanegara. Kini memiliki tiga orang putera-puteri
cantik blasteran Jawa-Toraja. Orang tua laki-laki Margareta adalah tokoh Aluk
Todolo agama lokal yang hingga saat ini masih bertahan, kendatipun dipaksa
masuk dalam gugus agama mainstream. Sedangkan Ibunya adalah penganut Protestan
yang taat. Konflik terbuka? hampir tidak pernah terjadi, setiap anggota
keluarga memberikan penghormatan terhadap anggota keluarga lainnya.
Ramadhan
ini, sama dengan Ramadhan sebelumnya. Keluarga beda agama ini, tetap rukun
tidak terpengaruh sedikitpun dengan hiruk pikuk isu nasional dan global tentang
benturan peradaban, termasuk isu agama. Ataupun larut dalam kasus Ahok, yang
terkadang sudah melewati batas kewajaran kita sebagai bangsa yang berbudaya.
Semua keluarga bahu membahu membantu, menyiapkan kebutuhan berbuka dan sahur
anak dan cucu yang berbeda agama dengannya. Begitupun ketika Natal tiba, anak
dan cucu bersatu memberikan bantuan moril dan materil. Idhul Fitri Tahun lalu,
Ismail dan Margareta melakukan sungkeman mohon maaf terhadap orang tua-mertua
dengan membawa anak-anaknya. Tidak lupa membawa bekal kopi Toraja dan Burasa
penganan khas Idul Fitri yang sangat disukai. Dalam catatan penulis yang pernah
riset di Tana Toraja, betapa banyak berserak tipologi keluarga seperti ini
disana. Namun, tetap saja persaudaraan terjaga dalam bingkai Tongkonan penjaga
adat dan budaya.
Dalam
kajian para filosof, ada sebuah ajaran kearifan yang mungkin secara aplikatif
telah dilaksanakan oleh bangsa kita, yakni apa yang disebut dengan philosophia perennis (Schuon, 1975) yang
menempatkan seluruh eksistensi di dunia ini, sebagai wujud yang berserak dari Realitas
Mutlak. Mukti Ali (1992) menyatakan pluralitas merupakan realitas yang sangat
jelas dan nyata kelihatan. Setiap agama mengajarkan jalan hidup yang
berbeda-beda dan merupakan ekspresi dari pemeluknya untuk memahami ajaran
Tuhan. Karena bangsa Indonesia hidup dalam suasana masyarakat serba jamak
(plural society), maka dibutuhkan jalan untuk mencapai kerukunan dalam kehidupan
keagamaan. Pilihan sikap apa yang paling rasional dilaksanakan?
Dari berbagai tawaran para
ahli, Mukti Ali menawarkan konsep agree
in disagreement. Pola ini mengajarkan bahwa agama yang ia peluk itulah
agama yang paling baik dan benar, dan mempersilakan orang lain untuk
mempercayai bahwa agama yang dipeluknya adalah agama yang paling baik. Setiap
agama agama pasti memiliki perbedaan dan persamaan. Sikap yang perlu
dikembangkan dalam kaitan ini adalah saling menghargai antarpemeluk agama,
merajut damai dalam perbedaan. Orang yang beragama harus percaya bahwa agama
yang ia peluk itulah yang paling baik dan paling benar, dan orang lain juga
dipersilakan, bahkan dihargai, untuk mempercayai dan meyakini kebenaran agama
yang dianutnya. Mukti Ali juga menekankan, bahwa sikap agree in disagreement harus diwujudkan untuk menghadapi problem
keragaman paham keberagamaan. Keragaman itu jika dipahami secara positif justru
akan menjadi ujian. Tugas utama manusia yang berbeda agama adalah berlomba-lomba
menjadi umat yang terbaik. Menorehkan sejarahnya masing-masing, golongan mana
yang paling banyak memberikan manfaat dalam kehidupan umat manusia. Wallahu a’lam.

Komentar
Posting Komentar