LAUTAN OPTIMISME DI ”KAMPUNG HALAMAN”
Pada tahun 2010, seorang kawan saya bercerita
ketika mengikuti interview pada lembaga PBB United Nations
Children's Fund (UNICEF). Seorang interviewer yang konon penganut
Agnotisme bertanya “what is definite in life”
(apa yang pasti dalam hidup), kawan saya langsung menjawab satu kata
“death” (mati). Sontak bule tersebut menimpali “congratulation”, sebagai sinyal
bahwa kawan saya tersebut lulus. Rupanya, jawaban singkat tersebut merupakan
penentu kawan saya bekerja pada Badan PBB yang mengurusi anak tersebut. Kelulusan
kawan saya, dapat dimaknai sebagai runtuhnya rasionalitas-sekuler, yang selama
ini banyak dianut oleh orang atheis dan agostig. Sekaligus menumbuhkan
spiritualitas tentang kematian sebagai gerbang dan jalur cepat menuju perjumpaan
dengan Tuhan.
Menurut Komarudin Hidayat (2015: 103), tidak ada misteri yang selalu mengguncang akal dan batin manusia, kecuali misteri kematian. Meski perkembangan teknologi terus berkembang dan merangkak menuju puncak eksistensinya, namun sampai saat ini masih tidak ada yang bisa mengungkap misteri dari kematian, termasuk juga misteri dari ruh manusia. Pengetahuan tentang ruh ketika masih di dalam tubuh saja tidak tahu, apalagi tentang ruh ketika keluar dari tubuh akan ke mana tentu saja masih menjadi misteri yang tak terungkap.
Menurut Komarudin Hidayat (2015: 103), tidak ada misteri yang selalu mengguncang akal dan batin manusia, kecuali misteri kematian. Meski perkembangan teknologi terus berkembang dan merangkak menuju puncak eksistensinya, namun sampai saat ini masih tidak ada yang bisa mengungkap misteri dari kematian, termasuk juga misteri dari ruh manusia. Pengetahuan tentang ruh ketika masih di dalam tubuh saja tidak tahu, apalagi tentang ruh ketika keluar dari tubuh akan ke mana tentu saja masih menjadi misteri yang tak terungkap.
Tanggal
11 Juli 2017, Whatsapp di Grup KAMI IMMM Geng Millenium berdering, seorang
anggota group memberikan informasi bahwa Baharuddin Mapparenta (Bahar) salah
satu kawan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah telah memenuhi takdir Tuhan-Nya,
wafat dengan tenang didampingi isteri, anak, ibu, dan beberapa kawan yang setia
memberikan support moril dan materil. Setelah itu, komentar di group tersebut
dan group lain mencapai ratusan ditambah ucapan belasungkawa di facebook, dan
media online yang dikelola oleh kader-kader Muhammadiyah. Bahu kiri saya seakan
miring menahan beban kesedihan, tetapi bahu kanan saya membisikkan rasa
optimisme, karena saudaraku Bahar telah tunai melewati tanggungjawabnya sebagai
kader, suami, tulang punggung keluarga, dan seorang pendidik. Plus seorang ayah
bagi puteri kecilnya yang akan meneruskan darah “Muhammadiyah” ayahnya.
Semangat pengabdian tidak pernah berkurang karatnya walaupun kanker ganas telah
menggerogoti raganya yang semakin ringkih
Bagi
kader IMM di Sulawesi Selatan, mengenal Bahar adalah sosok yang tegas, ulet,
dan bertanggungjawab terhadap tugas yang diemban. Tidak jarang, sering tidak tidur
ketika ditugaskan sebagai instruktur pada acara Darul Arqam Dasar, dan
perkaderan di level yang lebih tinggi. Saya belum pernah bertugas satu tim
dengan beliau, tetapi cerita dari sahabat yang lain dan banyaknya kerabat dan
sahabat yang mengantarkannya ke peristirahatan terakhir, menyiratkan Bahar
adalah pribadi yang renyah dan riang dalam berkawan. Pemihakannya terhadap
militansi nilai yang diperjuangkan, masih dapat dilihat pada postingan di
beranda facebook-nya. Setiap persoalan, khususnya umat Islam disorotnya,
melalui komentar singkat, meupun tautan situs. Mungkin, sosoknya perwujudan
dari Rausyan Fiqr yang oleh Ali-Syari’ati diterjemahkan sebagai intelektual
yang tercerahkan, mampu membaca setiap persoalan hidup masyarakat, plus
melakukan pemihakan dalam sikap yang jelas.
Sebagai
kawan, saya mencoba membangun lautan optimisme dari air mata sahabat-sahabat
almarhum yang jumlahnya ribuan, seraya membayangkan Bahar tersenyum di “kampung
halaman” bersama pundi amal yang ditumpuknya selama di IMM dan Muhammadiyah. Ia
telah berkumpul dengan aktivis IMM yang telah syahid menjemput takdirnya,
kembali ke kampung halaman. Immawan Bahar dan Immawan yang lain, telah menulis
peta perjalanan pulang kampung menghadap Tuhan-Nya, melalui amal nyata. Tiada
amal yang paling mulia, selain menjaga kesinambungan kaderisasi agar tiada
terputus. Itulah makna perkaderan, tempat Immawan Bahar dan kawan-kawan lain
yang telah syahid, menulis jejak memoar kehidupan untuk diperhadapkan kepada
Tuhan-Nya.
Saya
yakin, Immawan Bahar saat ini tersenyum, tadi siang telah tiba di “kampung
halaman”, dan Tuhan telah membisiki akan menunaikan janjinya memberikan Mafaaza (tempat kembali orang yang
diberikan kemenangan) sesuai firmannya pada QS. An-Nabaa: 31. Selamat jalan
sahabatku, bahagialah di ujung doa melalui jari-jemari sahabatmu, Ibumu,
isterimu, dan Tita anakmu. Tita, lanjutkan perjuangan ayah-mu Nak. Kami sahabat
ayahmu akan menyokongmu dalam doa dan ikhtiar.

Komentar
Posting Komentar